Bahasa Alien? No, This is Bahasa Daerah!

Bandung merupakan kota yang sangat nyaman menurutku. Jika dibandingkan dengan Jakarta, Bandung tidak semacet disana. Suhu disini juga cukup stabil dan masih ada spot spot yang nyaman untuk sekedar beristirahat.
Kebetulan aku juga bekerja di Bandung. Bekerja disini otomatis kita harus bisa menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Misalnya, disini beberapa orang lebih suka menggunakan bahasa daerah ketimbang bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Hal itu tidak salah, karena umumnya di tempat lain juga akan demikian. Berdasarkan pengalaman pribadi, ketika menggunakan bahasa daerah memang kesannya menjadi lebih dekat dan enjoy. Ketimbang menggunakan bahasa Indonesia. Karena kesannya terlalu formal.
Serius amat bosq
Suatu hari ada karyawan baru yang hadir ditempatku. Kebetulan yang satu ini bukanlah orang Bandung. Namanya Supriyadi, dan dia berasal dari Pekalongan, yang berarti dia orang Jawa.
Karena aku juga kebetulan orang jawa, suatu hari kami mencoba saling bercakap cakap. Namun bukan percakapan biasa, jadi percakapan menggunakan bahasa Jawa.
Sontak respon rekan rekanku yang lain menjadi bingung. Bahkan ada yang mengatakan demikian, "ngomong naon maneh? bahasa alien? teu ngararati da".
Intinya mereka mengekspresikan raut wajah yang bingung, dan terheran heran. Hanya aku dan Supriyadi yang bercakap cakap sambil tertawa. " Hahaha , ora pada ngerti" ucapku sambil tertawa.
Karena sudah akrab, suatu hari temanku ini mengajakku untuk makan kacang ijo. "Kalo dipikir pikir sudah lama juga tidak makan kacang ijo", kataku dalam hati.
"Okelah kalau begitu, pulang gawe yak!", kataku dengan semangat. Hingga akhirnya sampai di Warung Pak Ubed. Disini kami memesan masing masing kacang ijo tanpa ketan, ditambah satu roti.
Harganya masih bersahabat di kantong, hanya 5 ribu rupiah untuk satu porsi kacang ijo. Dan seribu rupiah untuk rotinya. Sembari makan kami sesekali mengobrol, perihal pekerjaan dan saling berbagi pengalaman.
Supriyadi yang paling depan
Supriyadi yang paling depan
Kalau dijelaskan semuanya mungkin akan sangat panjang. Namun intinya dia menceritakan pengalamannya bekerja di berbagai bidang. Mulai dari rumah makan, berjualan tahu keliling, dan kalau tidak salah juga pernah berdagang cilok.
Ia menceritakan suka dukanya saat ia bekerja. Dan diakhir dia juga memberikan sedikit petuah. Bahwasannya jika kita ingin berkerja, janganlah hanya bekerja namun tetap dibarengi dengan doa. Jadi Usaha dan doa itu satu kesatuan.
Sayangnya rekanku yang satu ini tidak bertahan lama. Hingga akhirnya ia keluar menjelang Idul Fitri. Sedih memang, harus kehilangan teman yang sama sama orang jawa. Untungnya aku sempat berfoto bersamanya, sebagai kenang kenangan hehehe.

Walau begitu kami masih suka berkomunikasi, walaupun tidak secara langsung. Jadi melalui sosial media gitu, hehehe.

Komentar